Menu navigasi di blog ini aslinya tak memiliki efek slide. Bahkan tak membawa kode untuk menu drop down. Berikut kode perubahan dalam tempalate blog ini untuk menu navigasi.
Tampilkan postingan dengan label IT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IT. Tampilkan semua postingan
03 November 2010
Tips Otak-Atik Template (bag. 1)
Membuat Menu Drop Down dengan Efek Slide
Menu navigasi di blog ini aslinya tak memiliki efek slide. Bahkan tak membawa kode untuk menu drop down. Berikut kode perubahan dalam tempalate blog ini untuk menu navigasi.
KODE ini saya dapatkan setelah membuka source code dari template yang saya download. Ini memang cara mudah otak-atik template. Jika anda membuka sebuah halaman dan tertarik dengan tampilannya, buka source codenya yang di browser disediakan untuk melihat kode sumbernya. Di Firefox –> tekan control U, di Opera –> klik kanan pada layar halaman dan pilih Lihat Kode HTML, di Chrome —> klik kanan pada layar halaman dan pilih Lihat sumber laman.
Menu navigasi di blog ini aslinya tak memiliki efek slide. Bahkan tak membawa kode untuk menu drop down. Berikut kode perubahan dalam tempalate blog ini untuk menu navigasi.
28 Oktober 2010
ng-Blog, ng-Free Hosting, ng-Flash
Hampir 40 jam berkutat mencari hosting, membuat file flash setengah jadi dan memperbaiki coding gara-gara file flash not loaded. Dua hari dua malam tak tidur hanya sekedar menambah aksesori flash di Blog.
Saya sempat 2 tahun mencicipi flash hasil kreasi sendiri di hosting itu. Hanya sekedar numpang nginap flash. Tidak memakainya buat web pribadi, gara-garanya nama kita ditaruh dibelakang. Dulu alamat Geocities saya http:www.geocities.com/gatotaribowo. Saya gak suka nama ditaruh di belakang. Hingga akhirnya mucul blog yang memberi kita kesempatan untuk menempatkan nama di depan.
22 Oktober 2010
XecureBrowser, Khusus Pengguna Transaksi Keuangan
Ini bukan sembarang browser internet. Anda tak dapat mengetikkan alamat situs atau web di tab alamat. Jadi bukan untuk pengguna yang suka surfing. Khusus untuk pengguna internet banking dan transaksi elektronik lainnya.
review oleh: Gatot Aribowo
![]() |
| XB loading saat dibuka |
PERTAMA mencoba browser yang satu ini mata saya tertuju pada tab address untuk mengetikkan alamat situs. Ada yang tak biasa. Sepertinya tab itu terkunci. Benar, ketika saya coba mengetikkan suatu alamat web, tak bisa sama sekali. Kursor pun tak berkedip-kedip seperti biasanya kita lihat di tab browser pada umumnya.
Di tab menu bagian atas, saya melihat sesuatu yang menarik. Ada tab "Bank" dan "Payment" di deretan sebelah kanan menu "File" dan View. Saya langsung menuju ke sana dan menekan menu "Bank". Muncullah 7 negara dalam sub menunya. Indonesia paling atas. Ketika saya geser ke sub menu "Indonesia" muncul berbagai sub menu lagi yang isinya bank-bank di Indonesia. Ada 22 bank di Indonesia yang tercatat dalam browser ini.
19 Oktober 2010
Yok, Bersahabat Dengan Linux
"Berterima kasihlah pada mereka yang telah mengembangkan tehnologi alternatif yang semakin user friendly, tanpa perlu kita membayar mahal, semahal kita membeli lisensi operating system dari Microsoft atau Apple"
MENGENAL Operating System Linux sejak pertengahan 2006 belum menggerakkan minat saya untuk menggunakan open source ini. Kendati telah memasang Ubuntu 7.0 di notebook dengan dual OS bersama Microsoft Windows XP Pro SP2, saya lebih sering menggunakan versi bajakan dari Windows tersebut. Bukannya malas belajar, namun bandwidth yang masih mahal membuat saya belum tertarik untuk menggunakan Ubuntu.
Bayangkan saja dengan koneksi dial up telkomnet@instan yang rate downloadnya tak sampai 2 kbps, unduhan codec-codec untuk membuat Ubuntu mampu memutar file MP3 tak akan mungkin dilakukan. Sementara instalasi Ubuntu sendiri belum melengkapi dirinya dengan codec yang bisa memutar musik sembari bekerja.
"Berterima kasihlah pada mereka yang telah mengembangkan tehnologi alternatif yang semakin user friendly, tanpa perlu kita membayar mahal, semahal kita membeli lisensi operating system dari Microsoft atau Apple"
MENGENAL Operating System Linux sejak pertengahan 2006 belum menggerakkan minat saya untuk menggunakan open source ini. Kendati telah memasang Ubuntu 7.0 di notebook dengan dual OS bersama Microsoft Windows XP Pro SP2, saya lebih sering menggunakan versi bajakan dari Windows tersebut. Bukannya malas belajar, namun bandwidth yang masih mahal membuat saya belum tertarik untuk menggunakan Ubuntu.
Bayangkan saja dengan koneksi dial up telkomnet@instan yang rate downloadnya tak sampai 2 kbps, unduhan codec-codec untuk membuat Ubuntu mampu memutar file MP3 tak akan mungkin dilakukan. Sementara instalasi Ubuntu sendiri belum melengkapi dirinya dengan codec yang bisa memutar musik sembari bekerja.
Langganan:
Postingan (Atom)




