20 Maret 2006

Abepura Berdarah 16 Maret 2006

Intifada Memakan 3 Brimob

Kesaksian jurnalis televisi ketika merekam tragedi yang menyanyatkan hati.

 oleh: Gatot Aribowo

“SAYA TAHU DIA PERGI (MAIN) BILYARD.” Kata itu keluar dua kali dalam isak tangis Ida, di teras ruangan UGD RSUD Abepura, Kamis siang, 16 Maret lalu. Lirih. Air mata berlinang, mengiringi suasana haru orang-orang disekitarnya. Dipeluknya seorang anggota Brimob Polda Papua dan ditumpahkan kesedihan dan kepiluan hati seorang istri yang ditinggal mati suaminya.

Ida adalah istri dari Briptu Arizona yang meninggal di RSUD Abepura usai pembubaran aksi pemalangan jalan menuntut penutupan PT Freeport di depan Kampus Uncen, Abepura, 16 Maret lalu. Selain Briptu Arizona, dua anggota Brimob lainnya, masing-masing: Brigadir Syamsudin dan Baratu Daud Sulaiman meninggal ditempat kejadian. Sementara 1 intel Lanud Jayapura, Agung Triyadi ditemukan tewas mengenaskan didalam kampus Uncen.

Sedangkan yang luka-luka, sedikitnya ada 20-an orang dengan 1 kritis. Sebagian rawat di RSUD Abepura dan sebagian RS Bhayangkara Polda Papua. Data terakhir menyebutkan, 2 kritis.

Brigadir Syamsudin dan Baratu Daud Sulaiman dievakuasi dua jam setelah kejadian berlangsung. Proses evakuasi berjalan lamban mengingat suasana saat itu masih riskan.

Pembubaran aksi pemalangan jalan menuntut penutupan PT Freeport dilakukan setelah proses negosiasi mentok. Akhirnya pembubaran paksa itu berbuntut aksi lempar batu dari kelompok massa yang melakukan pemalangan jalan.

Aksi lempar batu terjadi dua kali. Aksi yang pertama terjadi di jalan depan pelataran Aula Uncen. Berawal ketika Waka Polresta Jayapura Kompol Gatot Aris Purbaya meminta bubar ke massa dari pengeras suara mobil polisi. Namun seruan itu tak digubris oleh massa. Berkali-kali seruan, malah menuai lemparan batu. Suasana mulai kacau. Barikade pasukan polisi bertameng dari Satuan Dalmas Polresta Jayapura menjadi tameng. Sedikit-sedikit upaya meredam yang dilakukan beberapa koordinator massa dan komandan-komandan lapangan dari Polisi mampu menghentikan aksi lemparan batu.

“Kami meminta ke anggota masyarakat yang tidak tergabung dalam aksi, agar keluar dari pinggir kanan kiri jalan! Kami tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi,” teriak salah seorang petugas polisi dari pengeras suara.

“Kami menghimbau ke saudara-saudara, bapak-bapak, ibu-ibu yang ada ditengah jalan, agar segera membubarkan diri! Kalian telah melanggar undang-undang dengan mengganggu ketertiban umum. Sekali lagi, atas nama undang-undang, kami meminta untuk segera membubarkan diri!”

Seruan-seruan itu terdengar berulang kali setelah massa belum juga keluar dari badan ruas utama jalan. Bahkan terus menuai emosi dari massa.

Emosi itu sebetulnya sudah bangkit ketika barikade polisi maju dua langkah saat proses negosiasi berlangsung sebelum aksi lempar batu yang pertama terjadi.
Nego dilakukan antara koordinator dengan petugas polisi yang jadi komandan lapangan. Tidak jelas, siapa yang komandan.

Terlihat Kapolresta Jayapura AKBP Taufik Pribadi –yang baru dua minggu dilantik- juga jarang memegang kendali. Lebih sering dilakukan oleh pejabat-pejabat Polda Papua yang berpangkat satu tingkat diatasnya. Setidaknya ada dua pejabat Polda Papua berpangkat melati tiga (Kombes) yang sering bergantian melakukan negosiasi. Ditengah-tengahnya, Direktur Kontras Papua Pieter Ell ikut membantu proses nogosiasi antara dua pihak yang berhadapan.

Masih dalam nego-nego, Kosmos, salah seorang pucuk koordinator, meminta massa-nya mundur empat langkah ke belakang setelah menyatakan akan menjamin kehadiran Pangdam XVII/Trikora dan Kapolda Papua dalam aksi berikutnya. “Saya menjamin, dengan bantuan lobi kakak-kakak kita, Pangdam dan Kapolda akan datang menemui kita. Tapi tidak hari ini. Aksi berikutnya, hari Sabtu (18 Maret). Sekarang saya minta, mundur empat langkah! Satu..! Dua…!Tiga…! Empat…!” Terdengar suara Kosmos melalui pengeras suara ke arah massa.

Disaat bersamaan, tiba-tiba barikade polisi maju dua langkah. Ketika itulah emosi massa mulai bangkit. Kosmos sempat memperingatkan barikade polisi untuk tetap mundur, kembali ke tempat semula. Namun tidak digubris oleh barikade polisi.

Usai aksi pelemparan batu yang pertama, Selvius Bobby yang selama ini terkenal dengan Front Perjuangan Pembebasan Rakyat (Pepera) Papua Barat ditangkap, dan dimasukkan ke truk polisi. Sempat terdengar teriakannya berkali-kali, “kawan-kawan! Kawan-kawan!” Sebelum akhirnya truk itu lari ke arah Abepura membawa Selvi –panggilan Selvius Bobby- menuju Polresta Jayapura.

Penangkapan Selvius ini memicu semakin alotnya negosiasi kedua yang dilakukan setelah aksi pelemparan batu yang pertama. Massa masih menduduki jalan. Kali ini mundur ke arah pintu gerbang Kampus Uncen. Berjarak sekitar 10-15 meter ke Abepura dari jembatan penyeberangan. Mereka duduk bersila, bergerombol memenuhi badan jalan yang terdiri dari dua ruas. Dibelakangnya, api masih menyala-nyala dari dua area tempat pembakaran ban. Asap menerpa ke tempat saya berdiri di jembatan penyeberangan.

Beberapa orang dari kelompok massa telah mempersiapkan batu-batu. Siap dilempar bila terjadi pemaksaan dari polisi. Sedikitnya dua orang terlihat telah menyiakan batu ditangannya yang dilipat ke belakang.

Disisi pinggir kiri jalan (dalam area kelompok massa), terlihat 3 anggota intel dari beberapa kesatuan TNI maupun polisi. Salah satunya Agung Triyadi, intel Lanud Jayapura yang ditemukan tewas didalam lingkungan kampus Uncen, saat dilakukan penyisiran usai kejadian. Dimungkinkan, Agung dan kawan-kawan disampingnnya telah diincar beberapa orang dari kelompok massa.

Dibawah jembatan penyeberangan, sebuah tenda perpal warna oranye telah terpasang. Terikat dengan tali yang diikat di jembatan dan pintu gerbang Kampus Uncen. Entah dimaksudkan untuk apa. Sebab disekitar lokasi tenda, teduh oleh rindangnya pohon.

Jalan ke arah Sentani, sepanjang 20-an meter dari jembatan penyeberangan, pohon-pohon sengaja ditumbangkan dan ditaruh di tengah jalan. Beberapa lokasi, api terlihat menyala-nyala dari tumpukan ban yang dibakar. Asap tebal mengepul.

Sementara didepan gerombolan massa, Kasat Sabhara Polresta Jayapura, AKP Rumarupen terlihat masih melakukan negosiasi dengan beberapa koordinator aksi. Negosiasi juga dibantu oleh beberapa orang dari massa yang dianggap tetua.

Negosiasi hampir membuahkan hasil. Koordinator-koordinator massa setuju akan membuka satu ruas jalan. Dengan catatan: Selvius Bobby dilepas. Tapi massa menghendaki Selvi dilepas dulu ke hadapan mereka.

Belum sempat negosiasi dilanjut ulang, dua truk Brimob datang dengan kecepatan tinggi dari arah Abepura. Berhenti tepat di belakang barikade polisi yang berjumlah tidak kurang dari 30-an anggota. Melihat itu, massa mulai bersiap-siap. Beberapa koordinator massa mulai enggan melanjutkan negosiasi. Suasanan semakin panas.

Ditengah barisan massa, beberapa orang mulai mengambil batu, disiapkan ditangan yang dilipat di belakang tubuhnya. Ada juga yang pegang batunya ditunjukkan. Siap dilempar, bila chaos.Sebagian yang lain memberi aba-aba ke arah massa yang berada di luar badan jalan untuk masuk ke barisan.

Barisan massa terdepan mulai berpegangan tangan. Kosmos terlihat mundur ke sisi kanan barikade massa, lalu masuk ke ke tengah-tengah barisan terdepan massa. Ikut bersila. Sejenak kemudian bangkit dan memberikan arahan. Tangannya bergerak-gerak ke depan belakang, kadang memutar mengikuti gerakan tubuhnya mengiringi instruksinya ke beberapa orang didepannya. Sesaat kemudian, dia masuk lagi ke barisan terdepan dan berpegangan tangan dengan anggota massanya disisi kanan kiri.

Didepan, barikade polisi Dalmas Polresta Jayapura bergeser ke ruas jalan seberang kampus. Jumlahnya tidak kurang dari 30-an. Disisi satunya, barikade polisi Brimob Polda Papua membentuk barisan barikade bertameng lebih besar dari tameng Dalmas.

“Sekali lagi, kami minta ke masyarakat yang ada di depan, yang memenuhi jalan. Agar membubarkan diri!”

Suruan dari polisi terdengar kembali diiringi barikade polisi yang mulai maju beberapa langkah. Tiba-tiba dari ruas jalan sisi barikade Dalmas, tiga anggota Brimob berlari dari pinggir masuk ke tengah-tengah, diantara dua barikade yang berhadapan. Tembakan gas air mata ke atas.

Massa bubar. Chaos. Lempar batu.

Massa berlarian ke arah kampus, di kanan kiri jalan. Dikejar aparat. Barikade meringsek maju, sepanjang 30-an meter dari posisi semula. Melewati jembatan penyeberangan dan pintu gerbang kampus. Ada 60-an anggota gabungan Dalmas dan Brimob.

Serangan batu dari sisi kiri kanan, dari dalam kampus menerpa dengan iringan khas, “hu…hu…hu…hu.” 60-an anggota ini terjebak. Dibelakang, tidak ada pasukan yang menghalau massa. Mereka juga terhalau oleh serangan batu.
Mau masuk kampus, daerah terlarang. Tidak ada hak polisi masuk area kampus. Ini dimanfaatkan massa yang terus menyerbu dengan Intifada, sebutan khas Palestina ketika melawan Israel dengan lemparan batu.

Serangan intifada itu membuahkan hasil. Satu, dua, tiga dan seterusnya, anggota yang membetuk barikade berlindung tameng, berjatuhan. Coba berlarian mundur ke posisi semula. Jatuh, tersangkut pohon. Dimanfaatkan massa yang berhamburan keluar kampus.

Menyerbu. Menghajar. Menjatuhkan batu, besar atau kecil ke tubuh anggota-anggota polisi yang jatuh. Tak berdaya. Menunggu ajal menjemput, saat itu juga.
Dramatis. (*)

Video Liputan Abepura Berdarah 16 Maret 2006 oleh Gatot Aribowo 

0 comments:

Poskan Komentar